SMA

SMA (2)

24 March 2013 1 comment

kurikulum-2013Pada level birokrasi,perubahan kurikulum sampai kurikulum 2013 dilakukan melalui empat tahap. Pertama Kemendikbud mengembangkan kurikulum dengan melibatkan para pakar pendidikan, kebudayaan, sampai ilmuwan. Kedua, presentasi di depan Wakil Presiden RI Boediono pada 13 November 2012. Ketiga, uji publik selama tiga minggu untuk menghimpun berbagai masukan masyarakat. Keempat, memformulasi ulang masukan masyarakat. Landasan digunakannya kurikulum 2013 menggantikan kurikulum sebelumnya (KTSP) adalah pertama landasan filosofi mencakup filosofi pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat dan kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi. Kedua lansadan yuridis tertuang dalam RPJMN 2010-2014 Sektor Pendidikan,perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum. Ketiga Inpres N0.1 Tahun 2010 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional mengenai penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa. Keempat landasan konseptual mencakup relevansi,model kurikulum berbasis bompetensi,kurikulum lebih dari sekedar dokumen,proses pembelajaran (aktivitas belajar, output belajar, outcome belajar) dan penilaian hasil belajar. 

Alasan pengembangan Kurikulum 2013 adalah pertama bangsa kita sedang menghadapi tantangan masa depan seperti adanya globalisasi (WTO,ASEAN Community,APEC, CAFTA),masalah lingkungan hidup,kemajuan teknologi informasi,konvergensi ilmu dan teknologi,ekonomi berbasis pengetahuan,kebangkitan industri kreatif dan budaya,pergeseran kekuatan ekonomi dunia,pengaruh dan imbas teknosains, mutu investasi dan transformasi pada sektor pendidikan. Kedua adanya kompetensi masa depan seperti kemampuan berkomunikasi,kemampuan berpikir jernih dan kritis,kemampuan mempertimbangkan segi moral suatu permasalahan,kemampuan menjadi warga negara yang efektif,kemampuan mencoba untuk mengerti dan toleran terhadap pandangan yang berbeda,kemampuan hidup dalam masyarakat yang mengglobal,memiliki minat luas mengenai kehidupan,memiliki kesiapan untuk bekerja,memiliki kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya. Ketiga adanya fenomena negatif yang mengemuka,seperti perkelahian pelajar,kecurangan dalam ujian,gejolak masyarakat. Keempat adanya persepsi masyarakat seperti terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif,beban siswa terlalu berat dan kurang bermuatan karakter. Kelima merujuk pada hasil sejumlah survei internasional tentang kemampuan siswa Indonesia. Pada tahun 2007, dilakukan survey mengenai ‘Trends in International Math and Science’ Global Institute mencatat hanya 5 persen siswa Indonesia mampu mengerjakan soal berkategori tinggi yang memerlukan penalaran,sedangkan siswa Korea sanggup mengerjakan soal mencapai 71 persen. Sebaliknya, 78 persen siswa Indonesia dapat mengerjakan soal-soal kategori rendah yang hanya memerlukan hafalan, sementara siswa Korea bias mengerjakan soal seperti ini hanya 10 persen. Ditambah lagi hasil survey dari Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2009, Indonesia menempati peringkat 10 besar terbawah dari 65 negara peserta PISA yang diadakan tiga tahun sekali sejak tahun 2000, PISA menyertakan siswa berusia 15 tahun dari 65 negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Kriteria penilaian PISA mencakup kemampuan kognitif, dan keahlian siswa dalam membaca, matematika, dan sains. PISA 2009 memperlihatkan, hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai level 3 saja, sementara banyak siswa dari negara lain menguasai pelajaran sampai level 4, 5, bahkan 6. Survei Global Institute 2007 dan hasil PISA 2009 dapat dirangkum dalam satu kesimpulan bahwa prestasi siswa Indonesia rendah dibanding negara –negara lain. 

Kurikulum 2013 akan diterapkan di SD kelas I,SMP kelas VII,SMA/SMK kelas X . Pemerintah dengan sangat hati-hati secara berkesinambungan melakukan evaluasi terhadap kurikulum-kurikulum sebelumnya (kurikulum Sekolah Dasar,kurikulum Proyek Printis Sekolah Pembangunan/PSPP,kurikulum 1984,kurikulum 1994,kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK),kurikulum tingkat stuan pendidikan (KTSP). Pengembangan kurikulum tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Artinya sudah ada dokumen RPJMN 2010-2014 . Kurikulum 2013 arahnya sangat jelas , yaitu adanya keseimbangan kompetensi antara sikap (attitude), ketrampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge). Keseimbangan diperlukan karena kita merasa dirisaukan oleh pesereta didik kita yang hanya memiliki kompetensi kognitif saja,tetapi juga harus memiliki kompetensi sikap, dan ketrampilan. Ke 4 kompetensi ini didukung oleh 4 pilar yaitu : produktif, kreatif, inovatif, dan afektif . Inovatif merupakan gabungan dari sifat produktif dan kreatif. Mendikbud mengatakan : “ Seseorang produktif dan kreatif,bukan berarti menjadi inovatif, tapi inovatif ini hanya bisa dibentuk kalau ada dua hal tersebut. Kalau ada beras ada ikan belum tentu otomatis bisa dimakan,tapi kalau tidak ada beras tidak ada ikan otomatis tidak ada yang bisa dimakan. Syaratnya ada beras, ada ikan. Tentang afektif ini, kita rindu dengan kekuatan-kekuatan moralitas, sentuhan seni yang dibingkai dengan ke-Indonesia-an “.

Kurikulum 2013 adalah kurikulum terbaik yang dikembangkan oleh pemerintah dan merupakan kurikulum hasil koreksi dari kurikulum-kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum yang dikembangkan berbasis penguatan penalaran, bukan hafalan semata. Kurikulum pendidikan di Indonesia dipandang perlu disesuaikan dengan tuntutan zaman. Pola pembelajaran harus diarahkan untuk mendorong murid mencari tahu dan mengobservasi, bukan diberi tahu. Kurikulum 2013 sudah dilakukan uji publik,walaupun kurikulum-kurikulum sebelumnya tidak pernah dilakukan uji publik. Tujuannya adalah supaya supaya publik tahu akan ada kurikulum baru,publik dapat berpartisipasi sehingga ada rasa memiliki atau self-belonging dan siapa saja dapat memberikan pandangan. Dalam kurikulum ada 4 standar kompetensi yang harus diperhatikan yaitu standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian dan semua ini terkait dengan metodologi,sedangkan mata pelajaran dan buku hanyalah satu aspek saja. Sebagai pemahaman awal dalam penyusunan kurikulum 2013 yang pertama ditentukan adalah kompentensinya yaitu apa yang akan dicapai oleh peserta didik,bisa apa dan apa yang harus dilakukan. Setelah kompetensi ditentukan. Berikutnya adalah bagaimana cara mengevaluasinyanya, apakah sudah tercapai atau belum,untuk itu diperlukan standar penilaian. Jadi pendekatannya adalah scientific-approach. Penelitian menunjukkan bahwa kreativitas bisa dibangun melalui pendidikan yaitu 2/3 diperoleh melalui pendidikan dan 1/3 melalui genetik. Untuk menumbuhkan kreatifitas peserta didik,kita ajari peserta didik untuk mengamati dan kita dorong untuk bertanya,mencoba dan menalar dengan manfaatkan indrawi untuk melihat fenomena. Untuk itu karena prosesnya berubah,maka jam pelajarannya juga bertambah. Obyek pembelajarannya adalah fenomena alam, fenomena sosial, fenomena budaya. Belajar apa saja, obyeknya pasti tiga hal tersebut dan pendekatan yang digunakan adalah tematik-integratif. Peserta didik SD belum bisa berfikir spesialis. Karena spesialis itu memerlukan dasar yang kuat,dari awal peserta didik diajari berfikir secara utuh, generiknya diperkuat. Yang kedua adalah kesiapan guru sebagai ujung tombak dari semuanya. Dalam manajemen Pareto harus ada prioritas.jadi diprioritaskan mana yang paling penting. Implementasinya, harus disiapkan secara bertahap mulai dari kelas 1 SD, 4 SD, kelas 7, kelas 10 terlebih dahulu. Jadi harus ada pelatihan guru secara bertahap yang waktunya sudah ditentukan sebelum tahun ajaran baru. Untuk mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan kurikulum SD/SMP/SMA/SMK pada tahun pelajaran 2013/2014, Kemdikbud melalui Ditjen Dikdas, Ditjen Dikmen, BPSDMP dan PMP, P4TK, LPMP perlu memberikan bantuan teknis mengenai implementasi Kurikulum 2013 untuk Satuan Pendidikan SD/SMP/SMA/SMK. Dengan bimtek diharapkan semuanya mampu meningkatkan pemahaman, penguasaan, dan kemampuan guru/kepala SD/SMP/SMA/SMK tentang latar belakang, filosofi, konsep, tujuan, standar isi, standar kompetensi lulusan, kompetensi inti dan kompetensi dasar, standar proses, struktur kurikulum, silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), metode dan media, bahan ajar, bahan tayang, dan perangkat pembelajaran lainnya seperti sistem penilaian, serta aplikasinya dalam implementasi Kurikulum SD/SMP/SMA/SMK Tahun 2013 secara nasional. Yang diprioritaskan mendapat bimtek adalah SD (Kepala SD,Guru Kelas 1,Guru Kelas 4,Guru Agama, dan Guru Penjasorkes),SMP (Kepala SMP,guru mata pelajaran Pendidikan Agama,Pendidikan Kewarganegaraan,Bahasa Indonesia, Matematika,Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),Ilmu Pengetahuan Soial (IPS),Bahasa Inggris, Pendidikan Seni dan Budaya,Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan,Prakarya),SMA ( Kepala SMA,guru mata pelajaran Guru Bahasa Indonesia,Guru Sejarah Indonesia,Guru Matematika,Guru Bimbingan Konseling),SMK(Kepala SMK,guru mata pelajaran Guru Bahasa Indonesia,Guru Sejarah Indonesia,Guru Matematika,Guru Bimbingan Konseling). Bimtek Implementasi Kurikulum SD/SMP/SMA/SMK tahun 2013 diharapkan mampu mendukung terwujudnya guru SD/SMP/SMA/SMK yang kompeten dan profesional dalam pelaksanaan pembelajaran tahun pelajaran 2013/2014 berdasarkan pada Kurikulum SD/SMP/SMA/SMK Tahun 2013, serta pemahaman dan penerapan buku pelajaran tematik integratif untuk SD, SMP, SMA, maupun SMK. Tahap ketiga adalah pemerintah diharuskan menyiapkan semua buku pegangan siswa dan buku petunjuk untuk guru. Tahap ke empat tata kelola kurikulum 2013.

Kesiapan sekolah dalam pengembangan struktur kurikulum dalam standar isi yang memuat distribusi dan alokasi jumlah jam pembelajaran setiap minggu dan setiap kelas untuk setiap mata pelajaran berdasarkan satuan pendidikan juga diprioritaskan. Pemerintah harus sudah menyiapkan ini semua,karena informasi terakhir bahwa jumlah jam pembelajaran per kelas per minggu masih tentative belum dapat dipastikan dan dari waktu ke waktu dapat berubah dan karena draft akhir kurikulum 2013 masih belum ditandatangani oleh Mendikbud. Struktur kurikulum bagi sekolah adalah sangat mendasar,karena akan digunakan untuk membuat perencanaan secara menyeluruh ,mulai dari kalender pendidikan,jadwal pelajaran baik akademik dan non akademik,program semester, program tahunan sampai membuat rencana anggaran pendapatan belanja sekolah (RAPBS) untuk kepentingan semua steakholder sekolah. Sudah siapkah kita semua menyiapkan,menerima,melayani,menjamu kedatangan tamu Allah SWT ini dengan senang,ramah dan baik. Marilah kita semuanya berdoa kepada Allah SWT,semoga apa yang menjadi kehendak pemerintah dan kita, semuanya karena kehendak dari Allah SWT, semoga pendidikan di Indonesia menjadi pendidikan yang terbaik di dunia dan di akhirat.

ditulis oleh : M Habsy Hotib S ( Kepala Sekolah SMA Islam Harapan Ibu )

Read more...

Dalam proses belajar mengajar,guru menempati posisi yang sangat penting dalam menentukan tingkat keberhasilan peserta didik. Joan Dien (1983) menyebutkan kiprah guru sebagai " the most expensive and important resources in any class room " ( sumber termahal dan terpenting di dalam kelas ). Faktor yang berkaitan dengan guru diantaranya adalah faktor internal dan eksternal. Faktor internal berkaitan dengan kompetensi mengajar,bakat,kecerdasan,minat,motivasi,kondisi psiko-fisiknya dan kemampuan inderawinya.

Sementara faktor eksternal adalah faktor yang berkaitan dengan lingkungan kerja,kondisi sosio-ekonomi,lembaga pemerintah dan lembaga masyarakat sebagai pembina. Faktor eksternal sangat berkaitan dengan kondisi kerja. Bila kondisi kerja mendukung ,maka guru akan bekerja dengan efektif,sebaliknya bila kondisi kerja kurang atau tidak mendukung,maka guru tidak akan mampu mengembangkan dirinya,sehingga proses KBM kurang efektif dan hasilnya tidak akan memuaskan. Untuk meningkatkan produktivitas kerja guru seyogyanya secara kontinyu dilakukan pembinaan baik secara internal maupun eksternal. Untuk mencapai kondisi yang diharapkan tersebut lembaga pendidikan seharusnya melakukan QCC secara profesional.  Ross & Ross (1986) merumuskan QCC sebagai : " ..... a small group of employees doing similiar or related work who meet regularly to identify,analyse and solve product quality and production problem and to improve general operation.

The circleis relatively led by a supervisor or senior worked and organized as work -unit. The workers who have shared area of responsibility,meet weekly to discuss,analyse and propose solution to on going problems ". Tujuan pokok dari QCC adalah meningkatkan produktivitas kerja.  Secara khusus QCC bertujuan untuk menampung keahlian,pengetahuan dan pengalaman setiap guru atau karyawan untuk memperbaiki  kegiatan operasional,mutu,keamanan dan keuntungan lembaga.  QCC dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : identifikasi masalah,inventarisasi dan penentuan prioritas masalah,simulasi dan diskusi,penentuan alternatif pemecahan masalah,penetapan pelaksanaan perbaikan,umpan balik dan inventarisasi masalah yang belum terpecahkan.

Syarat untuk mencapai QCC secara efektif  adalah dilakukannya pembinaan secara kontinyu,adanya rasa kebersamaan,adanya semangat kerja yang tinggi,adanya keterbukaan,ketulusan dan kesediaan untukm membagi wewenang kepada bawahan.  Amerika Serikat sudah menerapkan QCC dalam dunia pendidikan tahun 1982 ( Harris,1985:104) , Singapore  sudah menerapkan QCC dengan nama " Work Improvement Team " (WIT),  Philipina sudah menerapkan QCC dengan nama " Learning Action Cell " (LAC).

Di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme guru dibentuklah system pembinaan professional yaitu melalui pembentukan gugus sekolah, di SD/MI disebut Kelompok Kegiatan  Guru (KKG),di SMP/MTs dan SMA/MA/SMK disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Kegiatan professional guru adalah meliputi perencanaan KBM, penguasaan materi, penguasaan PAKEM, keterampilan menggunakan sumber belajar, pengelolaan kelas, penilaian dan penggunaan buku teks/referensi. Dunia pendidikan adalah dunia yang terus berubah sehingga menjadi guru profesional berarti melibatkan diri dalam proses untuk berubah dan bertumbuh menjadi guru efektif. KKG dan MGMP adalah wadah kerjasama guru-guru untuk bersama-sama belajar melalui kegiatan-kegiatan yang digagas, dilaksanakan dan dievaluasi bersama.

Kegiatan KKG di Sekolah Dasar dapat dilaksanakan oleh guru-guru dalam satu pelajaran tetapi dapat juga antar guru kelas. Sedangkan MGMP, dilaksanakan oleh guru-guru dalam satu mata pelajaran. Kualitas  KKG dan MGMP yang ada dilingkungan Yayasan Harapan Ibu seyogyanya dikembangkan secara terus menerus,sehingga kualitas pendidikan secara keseluruhan dapat ditingkatkan.  Ini adalah harapan kita semua,semoga para pimpinan unit dapat memberikan ruang dan waktu yang cukup kepada semua guru dan karyawan untuk berkiprah sesuai dengan kompetensi masing-masing. Mudah-mudahan apa yang kita harapkan dan kita cita-citakan bersama-sama mendapat ridho Allah SWT.

ditulis oleh : M.Habsy Hotib S,S.Si,SE,MA

Read more...

Kampus Harapan Ibu

Harapan IbuSekolah Islam Harapan Ibu menjunjung tinggi nilai-nilai moral islami. Kami memiliki tekad untuk terus memajukan kualitas pendidikan baik dari sisi fasilitas, tenaga pengajar hingga program-program non-akademik yang menunjang kreatifitas anak didik. Dengan berasaskan islami kami akan terus berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anda.

Contact us

Silahkan hubungi kami jika ada pertanyaan seputar informasi mengenai harapan ibu yang belum ada di website harapan ibu